Showing posts with label Kajian. Show all posts

Syaikh Abdussalam Almasyasyi

Perkataan syaikh abdussalam almasyasyi
Kepada muridnya,
“Syeikh Abu al-Hasan as-Syaziliy berkata: “Guruku mewasiatkan kepadaku dan dia berkata: ” Jangan kamu langkahkan kedua kakimu kecuali kamu hanya mengharap balasan dari Allah swt, janganlah kamu duduk kecuali kamu merasa aman dari maksiat kepada Allah swt dan jangan kamu berteman kecuali dia dapat menolongmu untuk ta’at kepada Allah swt“.

Tips Mahir Berbahasa Arab


            Pertama hal yang harus dimiliki oleh seseorang yang ingin mahir didalam bahasa arab adalah mencintai bahasa arab itu sendiri, karena cintalah yang membuat orang istiqamah, cintalah yang membuat orang betah duduk berjam-jam belajar bahasa arab, cintalah yang membuat orang tidak henti-hentinya mempelajari bahasa arab, cintalah yang membuat orang tak kenal lelah menghapal kosakata bahasa arab, cintalah yang membuat orang tak kenal jarak ingin belajar bahasa arab.

            Jangan pernah berandai-andai ingin bisa menguasai ilmu nahwu, shorof & balaghah dalam waktu yang sekejap. Karena hal itu merupakan hal yang sangat mustahil, (kecuali Allah SWT jika Allah berkehendak lain). Coba lihat saja Muhammad bin idris as-Syafi’I yang biasa kita kenal dengan Imam syafi’i. seorang Hujjah didalam lughoh, sehingga ulama sekaliber Ibnu Hisyaam saja (penulis siroh Nabi) berkata الشَّافِعِيُّ حُجَّةٌ فِي اللُّغَةِ  "asy-Syafi'i hujjah dalam bahasa Arab".

            Bahkan diceritakan didalam beberapa kitab yang menceritkaan tentang al-Imam asy-Syafi’I bahwa beliau mendalami bahasa arab selama 10 dipedalam suku huzail. Coba bayangkan Imam Syafi’I saja yang orang arab mendalami bahasa arab selama 10 tahun, padahal ia orang arab, lalu bagaimana dengan kita ?

            Oleh karena itulah perlulah kecintaan yang kuat kepada bahasa arab, kuncinya ilmu-ilmu agama. Sebagaimana yang dikatakan oleh Umar bin Khaththab Ra bahwa beliau pernah menulis surat kepada Abu Musa yang berisi pesan: "Amma ba'du, pahamilah sunnah dan pelajarilah bahasa Arab". beliau juga mengatakan: "Semoga Allah merahmati orang yang meluruskan lisannya (dengan belajar bahasa Arab)". Beliau juga pernah menyatakan: "Pelajarilah agama, dan ibadah yang baik, serta mendalami bahasa Arab". Beliau mengatakan: "Pelajarilah bahasa Arab, sebab ia mampu menguatkan akal dan menambah kehormatan".

            Kedua, adalah kedisiplinan. Artinya hendaknya bagi seorang muriid ia mendisiplinkan waktunya, ia harus mengatur seluruh waktunya dengan. Jangan sia-siakan waktunya hanya untuk melakukan hal-hal yang tidak berguna, ia harus menyediakan waktu khusus bagi dirinya untuk mengulang-ngulang apa yang telah ia pelajari dari gurunya, dan waktu khusus baginya untuk menghapal apa yang telah disampaikan oleh gurunya.

            Ketiga, adalah keikhlasan. Artinya belajarlah dengan ikhlas kepada guru kita. Dan juga jagalah keikhlasan guru kita. Karena ilmu tidak akan masuk jika guru dan murid tidak saling ikhlas, jika sang guru ikhlas dan murid pun ikhlas maka akan lebih cepat dan lebih banyak keberkahannya.

            Keempat, adalah tinggalkan maksiat dan perbanyak puasa sunnah. Dikatakan oleh Hukama, “ barangsiapa yang mengosongkan perutnya, maka akan cerdas akalnya”.

gambar : muntahaafandi.web.id

Menafsirkan ayat & menjelaskan hadits malah masuk neraka ? mungkinkah ?



Nahwu, shorof & balaghah, Ketiga ilmu ini merupakan ilmu dasar yang harus dimiliki oleh setiap orang yang ingin memperdalam ilmu agama, karena tanpa ketiganya seseorang tidak akan bisa memahami ilmu agama dengan baik. Mengapa ? karena setiap orang yang ingin memperdalam ilmu agama wajib atas mereka kembali kepada sumber rujukan utama yaitu Al-Qur’an dan al-Hadits, dimana keduanya berbahasa arab. Lalu bagaimana jika orang berbicara tentang agama namun ia tidak memahami bahasa arab ?

Oleh sebab itulah 3 ilmu ini merupakan ilmu pokok yang harus dikuasai oleh setiap ulama, jika tidak maka ia akan tergolong kedalam orang yang berdusta atas nama Rasulullah SAW,  Sehingga wajar Al Asma’i Rhm juga pernah mengatakan,
                                                    
إن أخوف ما أخاف على طالب العلم إذا لم يعرف النحو أن يدخل في جملة قوله صلى الله عليه وسلم: “من كذب عليَّ متعمداً فليتبوأ مقعده من النار
Sesungguhnya yang paling aku takuti dari penuntut ilmu adalah jika ia tidak memahami nahwu sehingga ia masuk dalam kalimat dalam sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, siapa yang berbohong atas nama saya dengan sengaja maka lihatlah tempat duduknya dari api neraka. (dalam kitab Al wasith fi ‘ulum wa mustalahul hadits, juz 1 hal 150)

            Maksudnya bahwa mereka yang belajar islam, tetapi tidak memahami bahasa arab dan hanya sekedar membaca dari terjemahan saja, maka akan sangat mungkin mengatakan sesuatu yang tidak ada dalilnya dalam alquran dan sunnah. Mereka akan beragama hanya dengan semangat dan perasaannya semata.
Bahkan Abu bakr as-Siddiq Ra pernah berkata,

لأن أعرب آية أحب إليّ من أن أحفظ آية
Sesungguhnya mengi’rab ayat lebih aku cintai daripada menghafalkannya.

Umar bin Khattab Ra pun pernah berkata,

تعلموا العربية فإنها من دينكم، وتعلموا الفرائض فإنها من دينكم
Belajarlah bahasa arab karena ia adalah bagian dari agamamu, dan belajarlah fara’id karena ia adalah bagian dari agamamu.

            Oleh karena itulah adanya Markazul Lughoh ini dalam rangka saling ta’awun didalam mempelajari ilmu-ilmu dasar tersebut, lewat kajian-kajian yang ada diblog ini. Dan doakan semoga kami ikhlas semata-mata mengharapkan ridhoNya dan diberkahi selalu amin Ya Rabbal ‘alamiin…

image : youtube.com

Mengapa saya susah menerima ilmu ?




            Banyak orang belajar bertahun-tahun kepada banyak guru, namun yang aneh ilmunya hanya sekedar dibuku saja, atau tidak meresap kedalam hati. Sehingga ia mengaji dan belajar bertahun-tahun tidak merubahnya menjadi lebih baik, belajar bahasa arab bertahun tahun tidak bermanfaat sedikitpun bagi dirinya. Mengapa ?

1.         Tidak beradab kepada guru
2.         Tidak menjaga diri dari perbuatan maksiat
3.         Tidak mengulang-ulang pelajaran yang diberikan
4.         Meremehkan Ilmu dan Guru
5.         Tidak mengerjakan yang diperintah guru
6.         Merasa cukup dengan ilmu yang sedikit
7.         Tidak siap belajar

Point pertama : “tidak beradab kepada guru”

«لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَفِ لِعَالِمِنَا»
“Bukanlah termasuk golongan kami, orang yang tidak menghormati orang yang tua, tidak menyayangi yang muda, dan tidak mengerti hak ulama kami.” (HR. Al-Bazzar)

Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Hendaklah seorang murid memperhatikan gurunya dengan pandangan penghormatan. Hendaklah ia meyakini keahlian gurunya dibandingkan yang lain. Karena hal itu akan menghantarkan seorang murid untuk banyak mengambil manfaat darinya, dan lebih bisa membekas dalam hati terhadap apa yang ia dengar dari gurunya tersebut” (Al-Majmu’ 1/84)

            Adab merupakan kunci ilmu, siapa yang tidak beradab maka tidak ada ilmu baginya. ketika kita memandang seorang guru dengan pandangan menghinakan maka ilmu akan sulit kita terima atau memaksa guru untuk menjawab pertanyaan hal itu tidak beradab. Maka beradablah karena itulah yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW.

Sahabat Ibnu Abbas Ra dengan kemuliaan dan kedudukannya yang agung, beliau mengambil tali kekang unta Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu seraya berkata: “Demikianlah kita diperintah untuk berbuat baik kepada ulama.”

            Jangan memanggil guru dengan namanya lebih baik katakanlah “wahai guruku dan Wahai ustad, Wahai kiai dll. Karena guru perlu dihormati, jangan disamakan dengan teman. Allah berfirman;

لَا تَجْعَلُوا دُعَاء الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاء بَعْضِكُم بَعْضاً
Janganlah kamu jadikan panggilan Rosul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain) … (Annur 63)

Point kedua : “ tidak menjaga diri dari perbuatan maksiat”.

Suatu ketika Imam Syafi’i berkeluh kesah tentang sebuah masalah kepada gurunya, yang sering dipanggil Syaikh Waqi. Imam Syafi’I mengadu bahwa dirinya susah dalam menghafal. Terutama ketika beliau menghafal Al-Qur’an. Syaikh Waqi pun menjawab, “Tinggalkanlah maksiat. Ketahuilah bahwa ilmu itu cahaya dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang gemar bermaksiat”.

Point ketiga : “Tidak mengulang-ulang pelajaran yang diberikan”

Mengulang pelajaran adalah sebab bertambahnya kekuatan hafalan di pikiran kita. Maka jika engkau mendapat suatu faidah ilmu, maka mengulang apa yang engkau dapatkan adalah sebab kuatnya dan tetapnya ilmu tersebut di pikiran kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا قام صاحب القرآن فقرأه بالليل والنهار ذكره، وإن لم يقم به نسيه
Jika seorang penghafal Al Qur’an shalat di malam dan siang hari dan membaca apa yang ia hafal, maka ia akan mengingatnya. Jika tidak, maka ia akan melupakannya”

Point keempat : “Meremehkan Ilmu dan Guru”

Dalam pembukaan kitab Ta’limul Muta’allim, Syekh Zarnuji merasakan kegelisahan yang sama, kemudian menganlisis sumber-sumber masalahnya. Beliau menulis: “...saya melihat sebagian besar pelajar di zaman kita bersungguh-sungguh (mencari) ilmu namun tidak bisa sampai atau terhalang dari manfaat serta buahnya, yaitu beramal dengannya dan menyebarkannya. Sebab, mereka salah menempuh jalannya dan meninggalkan syarat-syaratnya. (Padahal), setiap orang yang salah mengambil jalan pastilah akan tersesat dan tidak bisa sampai ke tujuannya, baik sedikit maupun banyak....”

Dengan keprihatinan senada, Abul Hasan al-Mawardi juga menulis dalam Tashilu an-Nazhr wa Ta’jilu azh-Zhufr fi Akhlaqi al-Malik, “Setiap orang yang belajar dari orang lain, selama dia tidak memelihara adab dalam dirinya, maka segala yang telah ia dapatkan darinya akan berhamburan dan ia akan kembali kepada tabiatnya yang semula.” Artinya, tanpa adab, pendidikan akan sia-sia. Apa yang ditanamkan dengan susah payah selama pendidikan, akan terurai dan berhamburan kembali, begitu ia diwisuda dari Almamaternya dan memegang ijazah.

Diantara ciri orang meremehkan ilmu dan guru adalah tidak mencatat apa yang dikatakan oleh gurunya atau tidak mau menghapalnya. Mari kita simak apa yang dilakukan oleh Imam syafi’I pada satu hari beliau meminta izin kepada ibunya untuk menuntut ilmu ke Madinah. Tibanya di Madinah, beliau menuju Masjid Nabawi dan menunaikan sholat sunah dua rakaat. Setelah selesai sholat, beliau tertarik pada satu majelis ilmu dalam masjid tersebut. Seseorang sedang mengajarkan tentang hadis-hadis Rasulullah SAW. Beliau adalah Imam Malik. Dengan langkah tertib, Imam Syafi’i menuju ke tempat Imam Malik dan duduk bersama murid-murid beliau. Imam Syafi’i lantas menulis apa yang disampaikan imam malik ditelapak tangannya. Beliau menulis segala apa yang diajarkan oleh Imam Malik. Tanpa disadari, Imam Malik memperhatikan tingkah lakunya.

Selesai majelis tersebut, Imam Malik memanggil Imam Syafi’i. Imam Malik bertanya kepada Imam Syafi’i, “Apakah kamu berasal dari Mekah?”. Imam Syafi’I menjawab, “Benar”. Imam Malik kemudian bertanya, “Mengapa engkau bermain-main dengan lidi dan air liurmu selama aku mengajar?”. Imam Syafi’I menjawab, “Maaf tuan. Sebenarnya saya tidak bermain-main. Hanya saja saya tidak ada kertas dan pena, semua yang tuan ajarkan saya tulis di telapak tangan saya dengan menggunakan lidi dan air liur untuk saya menghafalnya”.

Imam Malik membolak-balik tangan Imam Syafi’i, beliau tidak menjumpai tulisan apapun. Beliau terus berkata, “Tetapi kenapa telapak tangan kamu ini kosong?”. Imam Syafi’I berkata, “Benar tuan. Namun demikian tuan, saya telah menghafal semua hadis-hadis yang tuan riwayatkan tersebut”.

Setelahnya beliau disuruh melafalkan apa yang dihafalnya. Imam Malik mendapati tidak ada satu hadis yang tertinggal dari 20 hadis yang diajarkan pada hari itu. Semenjak peristiwa itu, Imam Syafi’i menetap di rumah Imam Malik. Selama 18 bulan Imam Syafi’i berguru pada Imam Malik. Hatinya yang suci memudahkan beliau memahami dan menghafalkan kitab Al-Muwatta’, sehingga akhirnya Imam Syafi’i sering diberi penghormatan untuk mengajar murid-murid yang lain.

Point kelima : “Tidak mengerjakan yang diperintah guru”.

            Penyebab kurang berkahnya ilmu dan penyebab lambatnya seseorang didalam belajar adalah tidak mengerjakan apa yang diperintahkan guru.

            Mari kita lihat ketaatan imam Ghazali kepada gurunya,  Suatu hari, Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali shalat berjemaah bersama adiknya, Imam Ahmad. Al-Ghazali menjadi imam dan adiknya menjadi makmum. Tapi, di tengah-tengah shalat, Imam Ahmad mufaraqah (memisahkan diri) dan shalat sendirian. "Mengapa engkau mufaraqah?" tanya Al-Ghazali seusai shalat. "Kulihat tubuhmu penuh darah. Maka, aku mufaraqah karena shalat berjamaah tidak sah jika tubuh imam berlumur najis (darah)," jawab sang adik.

Mendengar hal itu, Al-Ghazali sadar bahwa ketika shalat, beliau teringat permasalahan haidh yang sedang beliau tulis. Saat itulah Allah Swt menampakkan apa yang sedang beliau pikirkan kepada Imam Ahmad, sehingga sang adik melihat tubuhnya berlumur darah. "Bagaimanakah kamu bisa melihat hal-hal ghaib? Dari siapa kamu belajar?" tanya Al-Ghazali, penasaran.

"Engkau tidak layak belajar kepadanya,” jawab Imam Ahmad. “Engkau orang yang masyhur, sedangkan guruku orang biasa." Karena Imam Ghazali terus mendesak, akhirnya Imam Ahmad setuju untuk membawanya berjumpa dengan sang guru. Di pasar, mereka mendatangi seorang penjual daging dan Imam Ahmad memberitahu bahwa itulah gurunya.

"Tuan, saya ingin belajar ilmu dari Tuan," pinta Al-Ghazali. Penjual daging menggelengkan kepala; "Aku tidak punya ilmu untuk mengajarimu." Imam Ghazali merayu lagi, tapi penjual daging itu tetap enggan. Akhirnya, Imam Ghazali berkata; "Saya serahkan diri saya kepada Tuan, laksana mayat menyerahkan diri kepada orang yang memandikan."

"Baiklah,” jawab laki-laki setengah baya itu. “Lepaskan jubah kebesaranmu itu (jubah yang dipakai Imam Ghazali sebagai guru besar Universitas Nidzamiyyah). Sapulah meja tempatku menjual daging ini dengan jubahmu." Tanpa menunggu waktu, Imam Ghazali menunaikan perintah sang guru. Setelah selesai, beliau berkata; "Ajarilah saya suatu ilmu." "Besok, datanglah ke rumahku selepas Subuh," jawab penjual daging.

Selepas Subuh, Imam Ghazali sudah menanti penjual daging di depan rumahnya. Namun, ia hanya menyuruh Imam Ghazali memotong rumput di sekitar rumah. Imam Ghazali pun mematuhi. Setalah itu, beliau mengulangi kata-katanya; "Ajarilah saya suatu ilmu." "Besok, datanglah lagi ke rumahku selepas Subuh," jawabnya, singkat.

Sama seperti sebelumnya, selepas Subuh Imam Ghazali menunggu di depan rumah dan lagi-lagi penjual daging itu hanya menyuruh beliau membersihkan janban (tempat pembuangan kotoran manusia). Imam Ghazali menuruti perintah itu dengan ikhlas. "Tuan, pekerjaan yang Tuan perintahkan telah kulaksanakan. Ajarilah saya ilmu," pinta Al-Ghazali lagi.

"Baiklah, datanglah kembali besok selepas Subuh,” jawabnya. Keesokan harinya, hal yang sama terjadi lagi. Namun, kali ini Imam Ghazali diperintahkan mensucikan najis di lantai. Tugas ini pun dilaksanakan dengan baik. Setelah selesai, beliau kembali meminta diajari ilmu. Namun, jawaban penjual daging itu sungguh mengejutkan; "Segala ilmu yang kau inginkan sudah kau dapatkan. Sekarang, pulanglah!"

Imam Ghazali pun pulang dengan hati ikhlas. Namun, sejak saat itu, beliau dapat melihat hal-hal ghaib, yang tidak dapat dilihat oleh orang kebanyakan.

image : http://lbcblogs.com

Bersiasat didalam berdakwah



Jika kita akan memasang paku-sekrup ke dinding tembok, setelah dinding terlubangi, sebelum paku-sekrup dimasukkan, terlebih dahulu dimasukkan plastik berbentuk kondom. Plastik inilah yang akan berfungsi merekatkan pertemuan antara besi/baja paku-sekrup yang keras itu dengan dinding tembok yang mudah rapuh. Sebab jika dilangsung tanpa plastik tersebut, justru dinding akan merapuh dan posisi sekrup akan goyah. Ini cara kreatif dan temuan yang cerdas. Penemunya, entah siapa, tentu orang yang matang dalam pengalaman di lapangan. Cara ini tentu hasil dari buah pikiran yang terus berjalan, mencari dan mencari hingga menemukan yang terbaik.
Begitu juga didalam berdakwah mengajak orang dari kegelapan kepada cahaya, tidak perlu ilmu atau teori semata, akan tetapi diperlukan kecerdasan dan pengalaman. Bahkan sebenarnya jika kita lihat Rasulullah SAW sebelum diutus untuk berdakwah menyebarkan ajaran islam, Rasulullah SAW telah lebih dahulu dididik dan dibina oleh Allah SWT untuk menggembala kambing. Dimana menggembala kambing itu adalah training bagi Nabi SAW agar Ia mengetahui bagaimana seorang penggembala menjaga, merawat, memelihara dari segala gangguan, serta mengarahkan kambing-kambing itu dengan baik, sebagaimana kambing-kambing yang digembalakan Rasulullah SAW begitu juga Ummat. Kita sebagai da’I harus tau bagaimana cara memelihara umat, mendidik mereka, mengajarkan mereka, menjaga mereka dari hal-hal yang berbahaya.

Bukan hanya kecerdasan, pengamalan dan siasat yang diperlukan bagi seorang da’I akan tetapi esensi yang terpenting adalah kebersihan hati.

Syaitan & Manusia mempunyai peran dan fungsi yang berbeda, syaitan pekerjaannya dan tujuannya ingin memasukkan manusia semuanya kedalam neraka, sebagaimana sumpahnya didalam al-Qur’an.

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ [٣٨:٨٢]
Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, (shad 82).

            Oleh karena syaitan telah bersumpah kepada Allah SWT bahwa ia akan menyesatkan semua manusia agar mereka semua masuk kedalam neraka, maka syaitan berfikir dan bersiasat siang dan malam, tak henti-hentinya mereka berjuang demi masuknya manusia kedalam neraka.

ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ [٧:١٧]
kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). (al-A’raf 17)

            Dalam kitab tafsir al-Qur’tubi, sufyan bin Mansur dari Hakam bin ‘Utaibah menafsirkan, “ dari depan mereka (dari dunia mereka), dari belakang mereka (dari sisi akhiratnya), dari sebelah kanan mereka (dari sisi kebaikan mereka), dari sebelah kiri mereka (dari sisi kejahatan mereka). artinya syaitan tidak henti-hentinya menggoda manusia dari segala penjuru, bahkan mereka berusaha mati-matian agar manusia dapat mengikuti perbuatan sesat mereka.

            Jika syaitan saja mati-matian didalam menyesatkan orang, lalu bagaimana dengan kita selaku ummat Rasulullah SAW ? apakah kita hanya berdiam diri saja dan tidak menggunakan akal kita ? maka kita pun harus bersiasat bagaimana caranya agar manusia bisa masuk kedalam surga. Semangat seperti inilah yang dibutuhkan oleh para da’I ilallah (orang yang menyeru kejalan Allah). Akan tetapi semangat saja tidak cukup, sebab dikhawatirkan ia masuk kedalam kelompok islam garis keras yang membahayakan ummat.

Syaikh Muhammad Mutawalli al-Sya’rawi rahimahullah bercerita. Pada suatu kesempatan, saya berbincang dengan salah satu pemuda penganut Islam garis keras (ekstrimis). Saya bertanya kepadanya,

"Apakah mengebom sebuah klub malam di suatu negara muslim itu halal atau haram?"

Dia menjawab, "Tentu saja halal. Membunuh mereka itu boleh."

Saya bertanya, "Kalau seandainya kamu membunuh mereka, sedangkan mereka bermaksiat kepada Allah, kemana mereka akan ditempatkan?"

Dia menjawab, "Tentu saja neraka !"

Saya bertanya, "Kemana syaitan ingin menjerumuskan mereka?"

Dia menjawab, "Tentu saja ke neraka..!"

Saya berkata, "Kalau begitu, kamu dengan syaitan memiliki tujuan yang sama, yaitu memasukkan manusia ke neraka!"

Lalu saya menyebutkan sebuah hadis Rasulullah ketika ada mayat seorang Yahudi lewat di hadapan Nabi lalu Nabi Saw. menangis. Ditanyalah Nabi: Apa yang membuat engkau menangis wahai Rasulullah? Nabi bersabda: ((Telah lolos dariku satu jiwa dan ia masuk ke dalam neraka)) Saya berkata, "Perhatikan perbedaan antara kalian dengan Rasulullah yang berusaha untuk memberi petunjuk kepada manusia dan menjauhkan mereka dari neraka. Kalian berada di suatu lembah, dan Rasulullah berada di lembah yang lain."

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (an-Nahl 125)

            KH. Cholil, kyai masyhur dan alim dari Bangkalan Madura, kedatangan tamu seorang bapak dari desa. Maksud kedatangan tamu tersebut adalah mengeluhkan perihal anaknya yang suka makan gula. "Anak saya tidak mau berhenti makan gula, Kyai. Sudah tidak terhitung lagi saya menasehatinya agar mau berhenti makan gula!" kata tamu itu mengeluhkan anaknya. "Jajanan anak saya, jika tidak permen ya pasti gula, Kyai," orang itu melanjutkan."Tolong saya diberi sesuatu sebagai obat agar anakku mau berhenti makan gula, Kyai! Saya takut ia akan penyakitan karena kebanyakan makan gula!"

Demi mendengar keluhan tamunya itu, Kyai berpikir juga. Keluhan tamunya itu tampaknya memang sepele, yaitu mencari cara untuk mengatasi anaknya yang bandel, yang suka makan gula. Tampaknya Kyai menanggapinya dengan serius.

"Bapak ini setiap hari hanya minum air?" tanya Kyai tiba-tiba. Sang tamu merasa terkejut ditanya demikian. "Tidak Kyai! Kadang minum kopi, kadang minum teh!" "Pakai gula?" "Tentu saja Kyai!" di hati Bapak itu terasa geli juga mendengar pertanyaan Kyai Cholil. Kira-kira apa ya hubungannya? Hening sejenak.

Sesaat kemudian : "Begini, Bapak pulang saja dulu, tiga hari lagi kesini bersama anak Bapak!" Tanda tanya memenuhi benak sang bapak,ia berpikir kenapa tidak diberi doa atau mungkin segelas air yang sudah dibacakandoa untuk pengobatan anaknya? Begitu sulitkah bagi Kyai?

Tiga hari berlalu, orang dari desa itu datang lagi menghadap Kyai Cholil bersama anaknya yang suka makan gula itu. Setelah anaknya dihadapkan pada Kyai Cholil, bukannya diberi do'a malah dinasehati.

"Nak, kamu jangan suka makan gula lagi ya?" Nasehat Kyai pada anak itu seperti ketika menasehati cucunya sendiri. "Iya Kyai!" jawab anak itu patuh. Terasa di hati bocah itu seperti tengah disiram air pegunungan yang sejuk, menyegarkan. Indah pula rasanya dihati. Setelah itu Kyai tidak berbuat apa-apa lagi.Bahkan bercengkerama dengan sang anakdengan menghujani pertanyaan-pert ­anyaan tentang dunia anak. Lama-lama hati sang Bapak gundah juga. Ia berprasangka, sepertinya Kyai Cholil tidak berusaha 'mengobati' anaknya.
"Sudah begitu saja Kyai?" tanya sang Bapak kemudian. "Iya Pak. Saya kira saya sudah menuruti kemauan Bapak. Saya sudah menasehati anak Bapak agar tidak hobi makan gula lagi!" Jawab Kyai.

Lagi-lagi jawaban Kyai membuat sang bapak itu makin terheran-heran. ­ "Kyai, kenapa anak saya hanya diberi nasehat begitu saja?" tanyanya. "Jika hanya nasehat, saya sendiri sebagai ayahnya sudah tak terhitung lagi menasehatinya!"

"Itulah masalahnya!" "Maksud Kyai?" "Saya jelaskan ya Pak, kenapa sampeyan saya suruh pulang dulu dan baru tiga hari kemudian saya minta kembali. Karena saya berdoa dan berpuasa selama tiga hari itu dengan tidak makan gula, agar ketika menasehati anakmu omongan saya bisa dipercaya!" jawab Kyai.

Rupanya jawaban Kyai yang terakhir bikin mulut orang itu tercekat. Tak sepatah katapun yang bisa diucapkan lagi. Dia tidak habis pikir, sampai seperti itu Kyai Cholil yang hendak menasehati anaknya? Harus dirinya dulu yang menjalani nasehatnya dengan bersusah payah berdo'a, berpuasa selama tiga hari sebelum disampaikan kepada si anak. Orang sekaliber Kyai Cholil saja, yang terkenal dengan ilmu nahwu, fiqih dan tasawuf itu masih harus 'tirakat' untuk sekedar berucap satu kalimat. Kedekatannya kepada Allah SWT sungguh luar biasa, sehingga setiap langkahnya selalu bernuansa dzikrullah, ingat Allah.

Akhirnya tamu itu pulang dengan membawa cerita keteladanan sang Kyai. Kenyataannya memang, sang anak langsung sembuh alias tidak lagi suka makan gula.

            Didalam kitab tarikh al-Baghdad, diceritakan bahwa Imam Abu Hanifah saat di Kuffah memiliki tetangga seorang pemuda tukang sepatu. Pemuda itu bekerja sepanjang hari, malam harinya ia baru pulang ke rumah. Dari  tempat kerjanya, terkadang ia membawa daging untuk dimasak, kadang pula ikan yang dibawa untuk dipanggang.

Sayangnya, ia ternyata seorang pemabuk. Sampai-sampai ketika sedang mabuk-mabuknya, tak terasa ia sering mongeceh dengan suara keras, “Mereka menelantarkanku, tidak tahukah siapa yang mereka sia-siakan. Dialah pemuda yang selalu berjaga di perbatasan di hari-hari yang mencekam.” (pemuda ini merasa tidak diperhatikan oleh tetangga sekitar)

Ketika mabuk, kata-kata tersebut diulangnya terus menerus sambil minum. Ia tidak sadar bahwa Abu Hanifah tiap hari mendengarkan dan memperhatikan tingkah pemuda ini.

Suatu malam di saat Abu Hanifah menyelesaikan shalat malamnya, suara lanturan pemuda itu tak lagi terdengar. Beliau pun bergegas mencari tahu keberadaan pemuda mabuk tersebut. Di tengah jalan ada yang memberi tahu bahwa si pemuda telah diciduk petugas keamanan beberapa malam yang lalu untuk dijebloskan ke penjara. Syariat Islam berlaku, bahwa seorang pemabuk akan dikenai hukuman.

Maka esok harinya setelah menyelesaikan Shalat Subuh, beliau naik ke atas keledainya untuk menemui Amirul Mukminin. Saat bertemu dengan Amir, beliau ditanya, “Ada apa engkau ke sini wahai imam?”

Beliau menjawab, “Begini Amir, aku punya tetangga tukang sepatu. Ia diciduk oleh petugas keamanan sejak beberapa hari lalu. Aku bermaksud memintamu untuk membebaskannya.” Karena diminta oleh seorang ulama terpercaya, Amir pun mengabulkannya, ia akhirnya dibebaskan.

Dalam perjalanan pulang Abu Hanifah masih naik keledainya, sedangkan pemuda itu ikut berjalan  di belakangnya. Setelah sampai rumah, Abu Hanifah bertanya penuh selidik kepadanya, “Eh nak, memangnya kita menelantarkanmu ya?”

“Emmm… Enggak, justru kamu menjaga dan memperhatikanku.” jawabnya sambil tersenyum malu. “Terima kasih sudah menjadi tetangga yang baik ya.” pungkasnya. Setelah kejadian tersebut, pemuda itupun bertaubat, ia tak lagi mabuk-mabukan seperti dulu lagi.

Jadi yang diperlukan bagi seorang da’i ketika berdakwah,

1.         Keikhlasan, semata-mata mengharap ridho Allah SWT
2.         fathonah(kecerdasan), dia memiliki kemampuan untuk bersiasat dan berfikir
3.         tabligh(menyampaikan), ia pandai didalam berkata-kata dan beramal
4.         amanah(terpercaya), ia orang yang dapat dipercaya karena kejujurannya
5.         kebersihan hati, bagaimana ia hendak membersihkan hati orang jika hatinya kotor.
6.         kesabaran, sebagaimana KH. Khalil sabar didalam memberi nasehat, Imam Abu hanifah yang sabar dalam menghadapi gangguan dari tetangga.
7.         Hati yang penuh kasih sayang kepada ummat, bukan keras terhadap mereka.
8.         Niat yang benar dan azzam yang kuat untuk menyerukan orang kejalan Allah.

Sebagaimana pepatah orang bijak, “ amal butuh kepada 4 perkara agar ia menjadi amalan yang baik yang diterima oleh Allah SWT :

a).        Ilmu sebelum beramal,
b).        Niat diawal beramla,
c).        Kesabaran ditengah beramal,
d).        Keikhlasan diakhir beramal.


Setan saja bersiasat, kok kita malah tidak ? 

gambar : http://darussalam-online.com/

Pembahasan Pertama - Kalam


Pembahasan pertama – Kalam (Jumlah Mufidah/Kalimat sempurna

الكلام هو اللفظ المركب المفيد بالوضع .
Kalam adalah lafadz yang tersusun yang memberikan faidah dengan tata letak bahasa arab.

            Tabarrukan dengan kitab matan Ajurrumiyyah al-faqir mengutip definisi yang dipakai oleh Ibn Ajurrum Rahimahullah. Yang paling pertama yang harus diketahui oleh pelajar ilmu nahwu adalah bab ini yaitu pembahasan tentang kalam atau Jumlah mufidah (istilah yang digunakan didalam kitab-kitab nahwu lain).

Kalam terdiri dari :

1.         Lafadz. Ulama nahwu menjelaskan bahwa kata “lafdz” bermakna كل ما يتلفظ به setiap apa-apa yang terlafadzkan oleh lidah, maka apapun yang memberikan manfaat bagi kita akan tetapi keluarnya bukan lewat mulut atau lisan maka bukan disebut lafadz. Seperti isyarat dengan tangan, tentu ia memberikan manfaat bagi kita akan tetapi tidak keluar dari lisan maka tidak disebut lafadz. Ataupun igauan orang yang tertidur, walaupun ia keluar dari lisan akan tetapi dikeluarkan bukan atas kemauannya sendiri.

2.         Murokkab (tersusun). Setelah kita mengetahui bahwa kalam itu harus berbentuk lafadz, maka baru disebut kalam jika kata itu tersusun atau tidak hanya terdiri dari 1 kata, bisa 2,3,4 atau lebih. Seperti kata محمد. ini bukanlah kalam karena hanya terdiri dari 1 kata. Sedangkan محمد قائم(muhammad berdiri) ini merupakan kalam karena terdiri dari 2 kata. Ulama nahwu mengatakan bahwa minimal kalam itu terdiri dari 2 kata, pertama isim dan isim seperti محمدٌ قائمٌ atau yang kedua isim dan fi’il قامَ محمدٌ.

3.         Mufiid (memberi faidah/manfaat), artinya kata-kata itu dapat dimengerti. Seperti ketika kita mengatakan bahwa sang Guru telah hadir, “ قد حضرَ الاستاذُ” (sungguh guru telah hadir). Dan semua yang mendengarkan kalimat ini menjadi faham dan memberikan manfaat bagi yang mendengar maka barulah ia disebut kalam yang mufid (memberi faidah). Sedangkan jika kata-katanya panjang akan tetapi tidak dipahami oleh pendengarnya, maka tidak dikatakan mufid seperti, ان تذهب إلي المسجد  (jika engkau pergi ke masjid .. ) kata sepeti ini membutuhkan kalimat tambahan lagi karena masih belum jelas maksudnya.

4.         bil wadh’I (dengan tata letak bahasa arab), artinya kalam itu haruslah berbahasa arab. Karena objek pembahasan nahwu hanya pada perkataan bahasa arab saja bukan pada perkataan bahasa Indonesia.


Contoh kalam dan yang bukan kalam :
1.     ذَهَبَ محمدٌ إلي المدْرَسَةِ صَبَاحًا = الكلام
2.     تعَلَّمَ محمد عِلْمَ اللغةِ العربية = الكلام
3.     إن تُحِبُّ اللهَ = ليس الكلام
4.     وقرأَ محمدٌ الكتابَ أمامَ أُسْتَاذِهِ = الكلام
5.     أمَام المكتَبِ = ليس الكلام
Tambahan bagi yang sudah bisa membaca kitab kuning :
·       قوله : (الكلام) أَيْ في اصطلاح النحويين ؛ لأن (ال) في (الكلام) إما أن تكون عوضاً عن مضاف إِلَيْهِ ، أَوْ للعهد الذهني . فعلى الأول إما أن يكون المضاف إِلَيْهِ المحذوف ضميراً أَوْ لا ، فإن كان ضميراً يكون التقدير : كلامنا ؛ أَيْ معشر النحاة . وإن كان اسماً مظهراً فيكون التقدير : كلام النحويين ، والْمُصَنِّف - يرحمه الله - منهم . وعلى الثاني يكون المقصود : الكلام المعهود في الأذهان ، وهو كلام النحويين ؛ لأن المتن المبدوء به ذلك في النحو ، ومصنفه من النحويين ، بل من أئمتهم المشهورين ) الكتاب : شرح الأجرومية المؤلف : صالح الاسمري(
·       والكلام في اللغة، هو: ما تكلم به الإنسان، قليلا كان أو كثيرًا، مفيدا أو غير مفيد، وفي اصطلاح النحويين هو: ما جمع القيود الأربعة التي ذكرها المصنف، وأحدها اللفظ، وهو في اللغة: الطرح والرمي، يقال أكلت الثمرة ولفظت النواة؛ وفي الاصطلاح هو: الصوت المشتمل على بعض الحروف الهجائية، التي أولها الألف، وآخرها الياء، كزيد، فخرج بذلك الكتابة، والرموز، والإشارة، ولو مفهومة. )الكتاب : حاشية الآجرومية المؤلف : عبدالرحمن بن محمد بن قاسم(

كَلاَمُهُمْ لَفْظُ مُفِيدٌ مُسْنَدُ ... وَالْكِلْمَةُ اللَّفْظُ المــُـــفِيدُ المـُــــفْرَدُ
لاِسْمٍ وَفِعْلٍ ثُمَّ حَرْفٍ تَنْقَسِمْ ... وَهَذِهِ ثَلاَثَةٌ هِيَ الْكَلِمْ
وَالْقَوْلُ لَفْظٌ قَدْ أفَادَ مُطْلَقاً ... كَقُمْ وَقَدْ وَإِنَّ زَيْداً ارْتَقَى